
K
|
ubuka cendela kamarku, saat ku terbangun dipagi
hari, kutatap sayuk-sayuk dedaunan basah
terslimuti embun, kudengar kicauan burung
kenari yang merdu nan indah, dan kutatap sang
fajar yang muncul sembari waktu terus berputar,
dengan sinarnya yang tajam menerangi isi
bumi tapan sejengkalpun terlewati, menandakan
suasana esok yang teramat cerah.
Tanpa tersadar ring-tone HP ku berbunyi nyaring, kemudian ku hampiri dan
ternyata setelah kulihat alarm di HP bertuliskan “Ucapkan ulang tahun untuk
Fina yang ke-17”. Untung tanggal lahirnya ku tulis di alrm HP, jadi
mengingatkanku bahwa Fina gadis pujaanku berulang tahun dihari ini deh..., tepatnya
ditanggal 19 Desember ini adalah ulang tahun si Fina.
Dia lah wanita muslimah yang telah mencuri dan meluluhkan hatikuku, disaat
pertama kali kita bertemu dipintu gerbang sekolah. Bagiku Fina adalah gadis
muslimah yang cantik dan baik hatinya, selalu rajin dalam segala kegiatan,
sungguh wanita yang mulia. Sudah lama kuiginkan diya menjadi pasangan hidup,
takkan rapuh hatiku saat sejuta mawar hadir dalam hidup.
Ayam-ayam pun berkokok ptook....ptokk.... menunjukkan bahwa sang fajar
mulai memancarkan sinarnya, kemudian segera ku bergegas mengambil hanpone untuk
menghubungi teman karibku Icha namanya. Karena, kemarin sore ku pergi kerumah
Icha sambil membawa beberapa cendra mata, dan meminta bantuan pada Icha untuk
merapikan kado yang sebelumnya udah kusiapin buat Fina.
“Askum, selamat pagi Cha. Gimana dengan kado untuk Fina apakah sudah siap?”,
tanyaku pada Icha.
“Waskum, iya All.... sudah kubungkus, tapi sebelumnya maaf iya kalau kurang
rapi J”, jawab temanku Icha
“Oh iya, nggak papa kok Cha, makasih banget ea, sampai ketemu di scoll
nantiii...!!!”
“OK....... J”
Segera ku bergegas membersihkan tempat tidur dan beranjak pergi menuju
kamar mandi. Pagi ini ku berangkat dengan tergesah-gesah, pasalnya selain ambil
kado di Icha, banyak tugas yang harus ku selesaikan disekolah untuk persiapan
remidi. Saat sesampai disekolah ku segera menemui Icha untuk mengambil kado buat
Fina, kudapati si Icha yang sedang beranjak kekamar kecil, kemudian kuhampiri.
“Hai Chaa..... gimana tidak lupakah kamu dengan titipanku kemarin?”
“Hai juga All...., nih udah kubawa’in, mau kamu bawa sekarang apa nanti?”
“Emm.... gimana ya?? Sekarang aja deh... J”
“Nih kadonya, gimana udah siap belum buat nembak si Fina....????”
“Wah jadi deg-degan nih cha, tapi insyaallah ku udah siap kok”
“Terus semangat Al, pasti kamu bisa..!!! Semangat... semangat...”
“Ok, thank’s ea... J”
“Yup’ss......”
Sebenarnya waktu seperti saat ini sudah lama ku nanti, karna ku ingin
dihari ultahnya ini jadi berkesan dengan hadirku disini, saat kado sudah berada
ditanganku, ku bingung karena ku lupa belum buat janji sama Fina. Lalu kupencet
nomor hpnya dan mulai kuhubungi si Fina, dag..dig..dug.. jantungku bergetar
teramat kencang. Memang benar perasaan deg-degan itu muncul kembali dibenakku,
apalagi disaat aku belajar mengungkapkan perasaan ku sesungguhnya kepada Fina.
Sesaat kusampai depan pintu kelasku, didalam teman-temanku sudah menungguku,
karena aku sudah berjanji pada mereka untuk membawakan buah salak. Kuambil
sebungkus buah salak, kubagikan kupada teman-teman, merekapun sangat senang dan
berharap ku akan membawanya lagi. Lalu kuteringat akan smsku pada Fina tadi,
kuambil hp ku dalam sakuku untuk melihat balasan dari Fina, teramat sangat lama
respon dari dya, jujur aku sempat khawatir, firasatku dia menghindar karena
takut dikerjain oleh ku dkk. Setelah beberapa lama kemudian dia mulai beri
respont sms dariku.
“Ada apa al...???”
“Ndak ada apa-apa kok Fin, cuman ku ntar pulang scol pengen bicara penting
sama kamu, bisakan???”
“(Dengan hati cemas) Memang ada
apa al???”
“Hanya sekedar ngomong-omong kecil kok Fin”
Kemudin kutunggu lama balasan sms dari diya, tapi jujur, ku gak pernah
punya pikiran negatif tentang Fina, mungkin aja diya sibuk sama pekerjaanya.
Saat waktu pulang tiba kutunggu Fina yang sedang rapat di ruang osis. Tersadar
hatiku kini menjadi bingung dan bimbang, jujur memang saat ini aku kurang
percaya diri, sampai-sampai Icha dan Ani teman akrabnya pun kubuat bingung.
Setelah lama kumenunggu, akhirnya sidiya keluar dari ruang rapatnya menuju
tempat parkir.
Dari sini ku bingung lagi, kenapa sih diya kayak gitu, cuek banget sama sms
ku. Yah kutau mungkin aja dibenaknya, dya mikir yang nggak-nggak mungkin takut
dikerjain atau dijailin kali ya..., palagi disaat ultahnya. Lalu Icha dan Ani mennyuruh
temannya bwat ngajak Fina ke kamar mandi, kemudian segera ku ikuti sidiya untuk
memberikan kado dan menyatakan perasaanku sesungguhnya kepada Fina.
“(Keluar dari kamar mandi, menuju musholla)
Hai, Fiinn....”
“(Menatapku dengan penuh tanda tanya)
Hai juga
Al,, ada apa?”
“(Kuhampiri sidiya, kualihkan sedikit
pandanganku) Bagaimana acara liburan ke Malang
, jadi apa Fin? Lalu, berapa biyaya untuk kesananya???”
“(dia mulai berhenti berjalan)
Iya acara kemalangnya jadi, soal biaya kita cuman bayar Rp. 50.000,- aja kok,
ikut ya...”
“Emm... iya Fin insyaallah, eh ku mau bilang sesuatu nih ma kamu”
“(Sambil berjalan terburu-buru,
karena takut dikerjain) Mau bilang apa??? Wah ndak enak nih kayaknya....”
“(kukejar diya dan ku raih jemari
tangannya) ini penting Fin...”
Tetapi diya terus berlari menuju ke Icha dan Ani, kemudian kuhampiri mereka
dengan sedikit kecewa. Memang benar si Fina itu anaknya baik, sopan dan santun,
bisa dibilang ia gak pernah pacaran sih. Untuk dapetin hatinya pun, ku butuh
pengorbanan dan perjuangan yang extra. Bayangin aja gimana mau gak digituin,
banyak pesaing ku untuk dapetin sidiya. Lalu si Fina beranjak menuju temannya
yang menunggu didepan Lobi, dan 2 temanku menyuruhku segera menghampirinya
kembali. Lalu, kudatangi sidiya kembali akhirnya diapun mau mengerti, dan
mempersilahkan ku untuk menyampaikan sesuatu.
“Begini Fin, ku tadi mau berikan titipan kado dari teman-teman... (sedikit berbohong tapi pasti)”
“(Sedikit bingung dan termenung)
Kado apa memangnya???”
“(Kuambil kado dalam tasku) Nih fin kadonya, selamat ulang tahun semoga
panjang umur dan sehat selalu....”
“Amiinn... trimakasih ya, wah ultah yang berkesan nih buat ku.... J
Udah selesaikan cuman ini aja??? (Dengan
perasaan takut dilempar air or tepung)”
“Iya Finn... sama-sama, gini sebelumnya ku juga mau bilang sesuatu nih sama
kamu”
“Mau bilang apa memangnya Al...???”
“Eehmm... Gimana ya...???”
“Wah, ndak enak nih kayaknya, hehehehe”
“(Hatu penuh dengan perasaan gemetar)
Begini Fin... Mau nggak kamu jadi pendamping didupku, tepatnya jadi pacar
gitu...??? Mau yaaa..... pplleeeaaaassssseeeee........”
(sejenak berdiam diri, mulai berfikir dan memberikan jawaban)
“Begini al, maaf sebelumnya karna ku masih belum berminat atau ingin
berpacaran, lebih baik kita berteman saja ya....”
“Emm.. Ok lah kalo begitu. Tapi masih ada ndak harapan buat aku bisa
milikin kamu, karna jujur gak ada orang seperti kamu”
“(dengan jawaban yang tak pasti/gantun) Mungkin ndak deh, kamu lho al gak
usah harapin q, banyak lho yang suka sama kamu...!!!!!”
“Tapi aku lebih sayang dan suka sama kamu Fin, gak ada yang bisa ganti
posisi kamu dihatiku!!!!”
Seketika hatiku syok, hancur dan luluh, tapi kuberusaha tegar mungkin
karena waktu yang belum mengizinkan kita untuk bersama. Sebenarnya, ku cukup
lega dengan tersampaikannya perasaan dalam hati ini, ku jadi tahu
bagaimana jawaban yang sesungguhnya dari
diya. Tapi hatiku masih bertanya-tanya hingga saat ini, bagaimana perasaan kamu
yang sesungguhnya. Kumohon, jangan pernah tinggalkanku, denga sejuta tanda
tanya besar dihatiku, mungkinkah semua perjuangan dan usahaku itu hanya
terbuang percuma.
Saat malam tiba ditemani dengan separuh bulan dan beberapa bintang
diangkasa, ku ambil hp kemudian telepon Fina, jujur perasaan takut kehilangan
seorang gadis jelita seperti diya sering muncul dalam benakku, karena
mencintaimu bukanlah hal yang termudah dalam hatiku, begitu pula melupakanmu
bukanlah hal yang kuingin dalam hidupku. Yang membuat aku lemah kembali, saat
ku telpon Fina diya bilang begini padaku
“Askum Fin, lagi sibuk ndak??”
“Waskum, ndak juga kok Al, dapa ya??”
“Begini Fin, q mau jelasin tentang kadoku tadi, sebelum kamu pakai jangan
lupa di cas selama 4 jam dulu ya....”
“Al ku mohon maaf sebelumnya, maaf bangeeetttt.... pemberian dari kamu
tadi, yang kurasa itu sebenarnya ndak pantas buat ku trima, besok ku kembalikan
ya?”
“Eemm... gimana
ya Fin ya... gini ku kasihnya kekamu ikhlas banget kok, dahlah pakai aja kado
itu, dan anggap aja itu kado sepesial
buat kamu...!!!”
“Tapi gimana ya Al, kado
yang kamu berikan sama aku
ini lho mahal banget gitu, apa
gak sebaiknya kamu ambil lagi
“Sudahlah ambil aja Fin, aku lho
dengan kebutuhanku kok, dahlah percaya sama aku, ambil kado itu, dan
simpan, andai kamu kembalikan pasti kan kuberikan kepada orang lain, karna ku
paling ndak
suka
barangku
dikembalikan kembali”
barangku
dikembalikan kembali”
“Emm.... makasih banget ea kalok begitu...”
“Iya, sama-sama Fin, yadah kalok begitu
maaf dah ganggu kamu. waskum”
“Iya Al, masama Walkum”
Jujur seketika hatiku menangis. Ku gak
tau kenapa semua jadi seperti ini, apakah
salah dengan pemberianku semacam itu.
Kuberikan semua itu tanpa pamrih, jadi
Biyarlah semua yang telah kuberikan padamu,
jadikanlah milikmu seutuhnya, jangan pernah
kau kembalikan satupun pemberian yang telah
kau terima, karna dengan maksutmu yang mulia
itu, bisa buat hatiku semakin hancur dan sakit.
Setelah jam menunjukkan waktu pertengahan malam, ku duduk termenung,
berfikir mengandai-ngandai, akankah besok diya kembalikan sebagian dari kadoku
itu. Tapi kupercaya diaya adalah gadis yang baik hati, pasti tau akan perasaan
seseorang disekitarnya. Dan kupun mulai tertidur lelap, hingga mentari esok
menantiku.
***
Pagi ini kuterbangun dengan sejuta bayangan yang kelam, hari-hariku semakin
tak memiliki arti, entah apa yang harus kulakukan, entah apa yang harus
kuperbuat, banyak hal yang kulakukan di hari ini, tapi semua itu selalu salah
dihadapan orang lain. Entah kenapa... kulampiaskan semua sakit hatiku, tapi tak
seutuhnya hilang, kucoba bersabar dalam masalah ini, tapi sampai kapan kan ku
jalani hari-hariku yang gelap seperti ini, hari-hari yang kelam, sendu, gundah,
galau, semua lengkap menjadi satu. Ku ingin berteriak sekencang-kencangnya,
tapi semua itu sulit.
Ku hanya bisa berharap, masih adakah waktu agar ku bisa buktikan seberapa
kuat rasa cinta dan sayangku padanya. Walau itu hanya sekedar harapan yang
sirna.
Perasaan yang ada dibenakku kini, masih terus mengiringi setiap langkahku,
sampai kapan semua ini berakhir. Memang benar kata sahabatku, semua
permasalahan akan cepat usai jika dimulai dari diri sendiri, dan sesuatu yang
telah lampau, bukanlah hal yang perlu diingat dan disesali.
Saat bel tanda pulang berbunyi, kuberjalan dengan teman-temanku. Kemudian, kududuk
disamping pos satpam didepan pintu gerbang, tak lama sidiya muncul dari pintu
gerbang sekolah. Aku sedikit terdiam saat melihat diya, mungkin perasaan yang
masih melekat inilah yang membuatku menjadi begini.
Kemudian ku ajak sahabatku kerumah teman akrabnya Ani, sesampainya dirumah
Ani ku duduk bersandar dibawah pohon yang teduh. Kemudian ku dipersilahkan
masuk oleh temanku, disana ku berbagi cerita tentang apa yang menjadi beban
dipikiranku akhir-akhir ini.
Kumulai cerita saat mereka bertanya kepadaku,
“Ada apa dengan raut wajahmu yang lesut itu All..” tanya kedua sahabatku.
“Kumasih teringat dengan 19 Desember ku yang kelabu...”
“Sudahlah tak perlu difikirkan kembali, mungkin waktu yang belum
mengijinkan kalian tuk bersama.”
“Hemm.... iya juga ssiiiihhhh......”
“Yadah coba aja ungkapin segala yang ada dibenak kamu, barangkali itu bisa buat
kamu lega...”
“Iyyaa.... begini ceritanya An... Ternyata sidya masih berharap kembali
dengan mantan pacarnya dulu, yah kata temanku tadi diya orang yang agamnya kuat
gitu”
“Terus kenapa dengan kamu. Tetap semangat yah... jangan putus asa dulu deh,
pasti kamu bisa dan kuat dalam ujian ini..”
“Tapi sungguh ku akui, memang ku kalah dengan diya, bahkan ku ajah low
masalah shalat sering bolong”
“Sudah....sudah.... Pasti banyak jalan menuju hatinya”
Ternyata selama ini ku salah menilai tentang arti sebuah hubungan
percintaan, ku beranggapan bahwa semua ini takkan pernah terjadi. Besar harapan
yang kumilikin untuk milikinya, mungkinkah aku bisa menyusup diselah-selah
hatinya. Ataukah semua hrapanku hanya sebatas batu apung, yang tak bisa masuk
kedalam sucinya air kehidupan cinta itu.
Slimutilah semua resah dan gelisah dengan ketenangan
hati, pejamkan mata sejenak sambil merenung. Ubah semua kegalauan yang terasa, setelah
sang fajar terbit kembali dipagi hari, segra terbangkit dari ranjang tidurmu
kemudian tersenyumlah dan ucapkan “aku sanggup berdiri tegar, setegar karang
lautan, walaupun besar badai menghadang, ku tetap disini menunjukkan jati diri,
yang tak akan sirna dan kelam begitu saja”.
JJ”THE END....!!!” JJ
Klik di sini
Post By : http://www.facebook.com/alie.rammadhany
Home
No comments:
Post a Comment