Date

Sunday, October 21, 2012

Cerpen 19 Desember Kelabu




K
ubuka cendela kamarku, saat ku terbangun dipagi
hari, kutatap sayuk-sayuk dedaunan basah
terslimuti embun, kudengar kicauan burung
kenari yang merdu nan indah, dan kutatap sang
fajar yang muncul sembari waktu terus berputar,
dengan sinarnya yang tajam menerangi isi
bumi tapan sejengkalpun terlewati, menandakan
suasana esok yang teramat cerah.
Tanpa tersadar ring-tone HP ku berbunyi nyaring, kemudian ku hampiri dan ternyata setelah kulihat alarm di HP bertuliskan “Ucapkan ulang tahun untuk Fina yang ke-17”. Untung tanggal lahirnya ku tulis di alrm HP, jadi mengingatkanku bahwa Fina gadis pujaanku berulang tahun dihari ini deh..., tepatnya ditanggal 19 Desember ini adalah ulang tahun si Fina.
Dia lah wanita muslimah yang telah mencuri dan meluluhkan hatikuku, disaat pertama kali kita bertemu dipintu gerbang sekolah. Bagiku Fina adalah gadis muslimah yang cantik dan baik hatinya, selalu rajin dalam segala kegiatan, sungguh wanita yang mulia. Sudah lama kuiginkan diya menjadi pasangan hidup, takkan rapuh hatiku saat sejuta mawar hadir dalam hidup.
Ayam-ayam pun berkokok ptook....ptokk.... menunjukkan bahwa sang fajar mulai memancarkan sinarnya, kemudian segera ku bergegas mengambil hanpone untuk menghubungi teman karibku Icha namanya. Karena, kemarin sore ku pergi kerumah Icha sambil membawa beberapa cendra mata, dan meminta bantuan pada Icha untuk merapikan kado yang sebelumnya udah kusiapin buat Fina.
“Askum, selamat pagi Cha. Gimana dengan kado untuk Fina apakah sudah siap?”, tanyaku pada Icha.
“Waskum, iya All.... sudah kubungkus, tapi sebelumnya maaf iya kalau kurang rapi J”, jawab temanku Icha
“Oh iya, nggak papa kok Cha, makasih banget ea, sampai ketemu di scoll nantiii...!!!”
“OK....... J
Segera ku bergegas membersihkan tempat tidur dan beranjak pergi menuju kamar mandi. Pagi ini ku berangkat dengan tergesah-gesah, pasalnya selain ambil kado di Icha, banyak tugas yang harus ku selesaikan disekolah untuk persiapan remidi. Saat sesampai disekolah ku segera menemui Icha untuk mengambil kado buat Fina, kudapati si Icha yang sedang beranjak kekamar kecil, kemudian kuhampiri.
“Hai Chaa..... gimana tidak lupakah kamu dengan titipanku kemarin?”
“Hai juga All...., nih udah kubawa’in, mau kamu bawa sekarang apa nanti?”
“Emm.... gimana ya?? Sekarang aja deh... J
“Nih kadonya, gimana udah siap belum buat nembak si Fina....????”
“Wah jadi deg-degan nih cha, tapi insyaallah ku udah siap kok”
“Terus semangat Al, pasti kamu bisa..!!! Semangat... semangat...”
“Ok, thank’s ea... J
“Yup’ss......”
Sebenarnya waktu seperti saat ini sudah lama ku nanti, karna ku ingin dihari ultahnya ini jadi berkesan dengan hadirku disini, saat kado sudah berada ditanganku, ku bingung karena ku lupa belum buat janji sama Fina. Lalu kupencet nomor hpnya dan mulai kuhubungi si Fina, dag..dig..dug.. jantungku bergetar teramat kencang. Memang benar perasaan deg-degan itu muncul kembali dibenakku, apalagi disaat aku belajar mengungkapkan perasaan ku sesungguhnya kepada Fina.
Sesaat kusampai depan pintu kelasku, didalam teman-temanku sudah menungguku, karena aku sudah berjanji pada mereka untuk membawakan buah salak. Kuambil sebungkus buah salak, kubagikan kupada teman-teman, merekapun sangat senang dan berharap ku akan membawanya lagi. Lalu kuteringat akan smsku pada Fina tadi, kuambil hp ku dalam sakuku untuk melihat balasan dari Fina, teramat sangat lama respon dari dya, jujur aku sempat khawatir, firasatku dia menghindar karena takut dikerjain oleh ku dkk. Setelah beberapa lama kemudian dia mulai beri respont sms dariku.
“Ada apa al...???”
“Ndak ada apa-apa kok Fin, cuman ku ntar pulang scol pengen bicara penting sama kamu, bisakan???”
(Dengan hati cemas) Memang ada apa al???”
“Hanya sekedar ngomong-omong kecil kok Fin”
Kemudin kutunggu lama balasan sms dari diya, tapi jujur, ku gak pernah punya pikiran negatif tentang Fina, mungkin aja diya sibuk sama pekerjaanya.
Saat waktu pulang tiba kutunggu Fina yang sedang rapat di ruang osis. Tersadar hatiku kini menjadi bingung dan bimbang, jujur memang saat ini aku kurang percaya diri, sampai-sampai Icha dan Ani teman akrabnya pun kubuat bingung. Setelah lama kumenunggu, akhirnya sidiya keluar dari ruang rapatnya menuju tempat parkir.
Dari sini ku bingung lagi, kenapa sih diya kayak gitu, cuek banget sama sms ku. Yah kutau mungkin aja dibenaknya, dya mikir yang nggak-nggak mungkin takut dikerjain atau dijailin kali ya..., palagi disaat ultahnya. Lalu Icha dan Ani mennyuruh temannya bwat ngajak Fina ke kamar mandi, kemudian segera ku ikuti sidiya untuk memberikan kado dan menyatakan perasaanku sesungguhnya kepada Fina.
(Keluar dari kamar mandi, menuju musholla)
Hai, Fiinn....”
(Menatapku dengan penuh tanda tanya) Hai juga
Al,, ada apa?”
(Kuhampiri sidiya, kualihkan sedikit
pandanganku) Bagaimana acara liburan ke Malang
, jadi apa Fin? Lalu, berapa biyaya untuk kesananya???”
(dia mulai berhenti berjalan) Iya acara kemalangnya jadi, soal biaya kita cuman bayar Rp. 50.000,- aja kok, ikut ya...”
“Emm... iya Fin insyaallah, eh ku mau bilang sesuatu nih ma kamu”
(Sambil berjalan terburu-buru, karena takut dikerjain) Mau bilang apa??? Wah ndak enak nih kayaknya....”
(kukejar diya dan ku raih jemari tangannya) ini penting Fin...”
Tetapi diya terus berlari menuju ke Icha dan Ani, kemudian kuhampiri mereka dengan sedikit kecewa. Memang benar si Fina itu anaknya baik, sopan dan santun, bisa dibilang ia gak pernah pacaran sih. Untuk dapetin hatinya pun, ku butuh pengorbanan dan perjuangan yang extra. Bayangin aja gimana mau gak digituin, banyak pesaing ku untuk dapetin sidiya. Lalu si Fina beranjak menuju temannya yang menunggu didepan Lobi, dan 2 temanku menyuruhku segera menghampirinya kembali. Lalu, kudatangi sidiya kembali akhirnya diapun mau mengerti, dan mempersilahkan ku untuk menyampaikan sesuatu.
“Begini Fin, ku tadi mau berikan titipan kado dari teman-teman... (sedikit berbohong tapi pasti)
(Sedikit bingung dan termenung) Kado apa memangnya???”
“(Kuambil kado dalam tasku) Nih fin kadonya, selamat ulang tahun semoga panjang umur dan sehat selalu....”
“Amiinn... trimakasih ya, wah ultah yang berkesan nih buat ku.... J
Udah selesaikan cuman ini aja??? (Dengan perasaan takut dilempar air or tepung)
“Iya Finn... sama-sama, gini sebelumnya ku juga mau bilang sesuatu nih sama kamu”
“Mau bilang apa memangnya Al...???”
“Eehmm... Gimana ya...???”
“Wah, ndak enak nih kayaknya, hehehehe”
(Hatu penuh dengan perasaan gemetar) Begini Fin... Mau nggak kamu jadi pendamping didupku, tepatnya jadi pacar gitu...??? Mau yaaa..... pplleeeaaaassssseeeee........”
(sejenak berdiam diri, mulai berfikir dan memberikan jawaban)

“Begini al, maaf sebelumnya karna ku masih belum berminat atau ingin berpacaran, lebih baik kita berteman saja ya....”
“Emm.. Ok lah kalo begitu. Tapi masih ada ndak harapan buat aku bisa milikin kamu, karna jujur gak ada orang seperti kamu”
“(dengan jawaban yang tak pasti/gantun) Mungkin ndak deh, kamu lho al gak usah harapin q, banyak lho yang suka sama kamu...!!!!!”
“Tapi aku lebih sayang dan suka sama kamu Fin, gak ada yang bisa ganti posisi kamu dihatiku!!!!”
Seketika hatiku syok, hancur dan luluh, tapi kuberusaha tegar mungkin karena waktu yang belum mengizinkan kita untuk bersama. Sebenarnya, ku cukup lega dengan tersampaikannya perasaan dalam hati ini, ku jadi tahu bagaimana  jawaban yang sesungguhnya dari diya. Tapi hatiku masih bertanya-tanya hingga saat ini, bagaimana perasaan kamu yang sesungguhnya. Kumohon, jangan pernah tinggalkanku, denga sejuta tanda tanya besar dihatiku, mungkinkah semua perjuangan dan usahaku itu hanya terbuang percuma.
Saat malam tiba ditemani dengan separuh bulan dan beberapa bintang diangkasa, ku ambil hp kemudian telepon Fina, jujur perasaan takut kehilangan seorang gadis jelita seperti diya sering muncul dalam benakku, karena mencintaimu bukanlah hal yang termudah dalam hatiku, begitu pula melupakanmu bukanlah hal yang kuingin dalam hidupku. Yang membuat aku lemah kembali, saat ku telpon Fina diya bilang begini padaku
“Askum Fin, lagi sibuk ndak??”
“Waskum, ndak juga kok Al, dapa ya??”
“Begini Fin, q mau jelasin tentang kadoku tadi, sebelum kamu pakai jangan lupa di cas selama 4 jam dulu ya....”
“Al ku mohon maaf sebelumnya, maaf bangeeetttt.... pemberian dari kamu tadi, yang kurasa itu sebenarnya ndak pantas buat ku trima, besok ku kembalikan ya?”
“Eemm... gimana ya Fin ya... gini ku kasihnya kekamu ikhlas banget kok, dahlah pakai aja kado itu, dan anggap aja itu kado sepesial  buat kamu...!!!”
“Tapi gimana ya Al, kado
yang kamu berikan sama aku
ini lho mahal banget gitu, apa
gak sebaiknya kamu ambil lagi
Finaap?? Kan bisa kamu pakek lagi gitu
Aliuangnya....”
“Sudahlah ambil aja Fin, aku lho
AFndak papa, lagiyan ku juga dah bisa bagi
dengan kebutuhanku kok, dahlah percaya sama aku, ambil kado itu, dan simpan, andai kamu kembalikan pasti kan kuberikan kepada orang lain, karna ku paling ndak
suka barangku dikembalikan kembali”
“Emm.... makasih banget ea kalok begitu...”
“Iya, sama-sama Fin, yadah kalok begitu
maaf dah ganggu kamu. waskum”
“Iya Al, masama Walkum”
Jujur seketika hatiku menangis. Ku gak
tau kenapa semua jadi seperti ini, apakah
salah dengan pemberianku semacam itu.
Kuberikan semua itu tanpa pamrih, jadi
Biyarlah semua yang telah kuberikan padamu,
jadikanlah milikmu seutuhnya, jangan pernah
kau kembalikan satupun pemberian yang telah
kau terima, karna dengan maksutmu yang mulia itu, bisa buat hatiku semakin hancur dan sakit.
Setelah jam menunjukkan waktu pertengahan malam, ku duduk termenung, berfikir mengandai-ngandai, akankah besok diya kembalikan sebagian dari kadoku itu. Tapi kupercaya diaya adalah gadis yang baik hati, pasti tau akan perasaan seseorang disekitarnya. Dan kupun mulai tertidur lelap, hingga mentari esok menantiku.
***
Pagi ini kuterbangun dengan sejuta bayangan yang kelam, hari-hariku semakin tak memiliki arti, entah apa yang harus kulakukan, entah apa yang harus kuperbuat, banyak hal yang kulakukan di hari ini, tapi semua itu selalu salah dihadapan orang lain. Entah kenapa... kulampiaskan semua sakit hatiku, tapi tak seutuhnya hilang, kucoba bersabar dalam masalah ini, tapi sampai kapan kan ku jalani hari-hariku yang gelap seperti ini, hari-hari yang kelam, sendu, gundah, galau, semua lengkap menjadi satu. Ku ingin berteriak sekencang-kencangnya, tapi semua itu sulit.
Ku hanya bisa berharap, masih adakah waktu agar ku bisa buktikan seberapa kuat rasa cinta dan sayangku padanya. Walau itu hanya sekedar harapan yang sirna.
Perasaan yang ada dibenakku kini, masih terus mengiringi setiap langkahku, sampai kapan semua ini berakhir. Memang benar kata sahabatku, semua permasalahan akan cepat usai jika dimulai dari diri sendiri, dan sesuatu yang telah lampau, bukanlah hal yang perlu diingat dan disesali.
Saat bel tanda pulang berbunyi, kuberjalan dengan teman-temanku. Kemudian, kududuk disamping pos satpam didepan pintu gerbang, tak lama sidiya muncul dari pintu gerbang sekolah. Aku sedikit terdiam saat melihat diya, mungkin perasaan yang masih melekat inilah yang membuatku menjadi begini.
Kemudian ku ajak sahabatku kerumah teman akrabnya Ani, sesampainya dirumah Ani ku duduk bersandar dibawah pohon yang teduh. Kemudian ku dipersilahkan masuk oleh temanku, disana ku berbagi cerita tentang apa yang menjadi beban dipikiranku akhir-akhir ini.
Kumulai cerita saat mereka bertanya kepadaku,
“Ada apa dengan raut wajahmu yang lesut itu All..” tanya kedua sahabatku.
“Kumasih teringat dengan 19 Desember ku yang kelabu...”
“Sudahlah tak perlu difikirkan kembali, mungkin waktu yang belum mengijinkan kalian tuk bersama.”
“Hemm.... iya juga ssiiiihhhh......”
“Yadah coba aja ungkapin segala yang ada dibenak kamu, barangkali itu bisa buat kamu lega...”
“Iyyaa.... begini ceritanya An... Ternyata sidya masih berharap kembali dengan mantan pacarnya dulu, yah kata temanku tadi diya orang yang agamnya kuat gitu”
“Terus kenapa dengan kamu. Tetap semangat yah... jangan putus asa dulu deh, pasti kamu bisa dan kuat dalam ujian ini..”
“Tapi sungguh ku akui, memang ku kalah dengan diya, bahkan ku ajah low masalah shalat sering bolong”
“Sudah....sudah.... Pasti banyak jalan menuju hatinya”
Ternyata selama ini ku salah menilai tentang arti sebuah hubungan percintaan, ku beranggapan bahwa semua ini takkan pernah terjadi. Besar harapan yang kumilikin untuk milikinya, mungkinkah aku bisa menyusup diselah-selah hatinya. Ataukah semua hrapanku hanya sebatas batu apung, yang tak bisa masuk kedalam sucinya air kehidupan cinta itu.
Slimutilah semua resah dan gelisah dengan ketenangan hati, pejamkan mata sejenak sambil merenung. Ubah semua kegalauan yang terasa, setelah sang fajar terbit kembali dipagi hari, segra terbangkit dari ranjang tidurmu kemudian tersenyumlah dan ucapkan “aku sanggup berdiri tegar, setegar karang lautan, walaupun besar badai menghadang, ku tetap disini menunjukkan jati diri, yang tak akan sirna dan kelam begitu saja”.


JJTHE END....!!!JJ

Klik di sini

Post By : http://www.facebook.com/alie.rammadhany

No comments:

Post a Comment